Ada satu hal yang belum ia saksikan:
Bagaimana umat berjalan… tanpa Nabi di hadapan mereka.
Hari-Hari Setelah Kepergian
Namun setiap langkah umat kini terasa berbeda:
Tak ada lagi wahyu yang turun untuk meluruskan kesalahan secara langsung.
Amanah kini berpindah.
Al-Qur’an dan Sunnah: Dua Penopang Zaman
Rio melihat para sahabat berkumpul, saling mengingatkan:
-
Al-Qur’an dijaga dengan hafalan dan tulisan
-
Sunnah Rasulullah ﷺ diceritakan dengan penuh kehati-hatian
Rio mencatat:
Setelah Nabi ﷺ wafat, kebenaran tidak hilang—ia justru menuntut tanggung jawab.
Ujian Kepemimpinan
Rio menyaksikan Abu Bakar r.a. berdiri sebagai khalifah pertama—bukan dengan mahkota, melainkan beban amanah.
Pidatonya singkat, namun mengguncang:
“Jika aku benar, bantulah aku.Jika aku salah, luruskan aku.”
Amanah yang Tak Pernah Selesai
Rio berjalan menyusuri waktu—melihat generasi demi generasi.
Ia menyadari satu kebenaran yang tak terbantahkan:
-
Islam tidak diwariskan melalui darah
-
Islam dijaga melalui akhlak
-
Risalah hidup melalui teladan
Setiap umat kini memikul potongan amanah itu.
Detektif Rio Kembali ke Masa Kini
Lorong waktu terakhir terbuka—tanpa tujuan sejarah.
Ia kembali ke zamannya sendiri.
Rio berdiri di dunia modern, penuh kebisingan, perbedaan, dan ujian baru.
Namun pesan itu tetap sama.
“Rasulullah ﷺ telah menunaikan tugasnya dengan sempurna.Kini, amanah itu berpindah ke pundak kita:menjaga shalat, menegakkan keadilan,menyampaikan kebenaran dengan akhlak,dan menjadi rahmat bagi semesta.”
Penutup
Detektif Rio menutup bukunya.
Sejarah telah ditulis.Amanah sedang berjalan.Dan setiap umat… adalah saksi zaman.