Kompas waktu itu tidak lagi bercahaya.
Ia retak—seakan tak sanggup menahan berat peristiwa yang akan disaksikan.
Jarumnya berhenti pada satu titik terakhir:
MADINAH – RABI’UL AWWAL, 11 HIJRIAH
Detektif Rio melangkah keluar dengan dada sesak.
Kota yang Menahan Napas
Ia melihat Nabi ﷺ dalam sakit yang berat, namun wajah beliau tetap memancarkan ketenangan.
Kalimat-kalimat terakhir itu terdengar lirih:
“Shalat… shalat… dan perlakukan orang-orang lemah dengan baik.”
Saat yang Tak Terucap
Kepala Rasulullah ﷺ bersandar di dada Aisyah r.a.
Ruh mulia itu kembali kepada Allah SWT.
Rio merasakan waktu seakan berhenti mengalir.
Kesedihan yang Tak Dipercaya
Rio mengikuti langkah para sahabat menuju masjid.
Ia melihat Umar bin Khattab r.a. berdiri dengan pedang terhunus, suara bergetar:
“Barang siapa mengatakan Muhammad telah wafat, akan kupenggal lehernya!”
Pidato Abu Bakar yang Menguatkan Zaman
Kemudian datang Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a.
Wajahnya basah oleh air mata, namun langkahnya tegas.
Ia masuk, memastikan… lalu keluar menghadap umat.
Dengan suara yang tenang namun menghancurkan hati, ia berkata:
“Barang siapa menyembah Muhammad, maka Muhammad telah wafat.Dan barang siapa menyembah Allah, maka Allah Maha Hidup dan tidak akan pernah wafat.”
Rio merasakan kalimat itu menyangga runtuhnya dunia.
Malam Tanpa Rasulullah ﷺ
Rio menyaksikan malam itu.
Hanya:
-
rumah yang kehilangan cahaya,
-
masjid yang terasa kosong,
-
dan umat yang belajar berdiri tanpa kehadiran fisik Nabinya.
Rio menulis dalam hatinya:
Rasulullah ﷺ wafat sebagai manusia,namun risalahnya hidup lebih lama dari waktu.
Kembali ke Lorong Waktu
Lorong waktu terbuka untuk terakhir kalinya.
Rio menoleh ke Madinah—kota yang kini memikul amanah terbesar dalam sejarah.
Ia melangkah masuk, membawa kesedihan yang suci, bukan putus asa.
Catatan Penutup Detektif Rio
Di ruang arsipnya, Rio tidak langsung menutup buku.
Ia menulis perlahan—seperti takut salah kata:
“Aku telah melihat Nabi ﷺ bukan sebagai legenda,tetapi sebagai manusia terbaik yang pernah ada.Beliau menangis, sakit, memaafkan, dan akhirnya wafat.Namun apa yang beliau tinggalkan…adalah cahaya yang tak pernah padam.”
Kompas waktu itu akhirnya hancur menjadi debu.
Rio menutup matanya.
Perjalanan selesai.
Namun tugas umat… baru dimulai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar