Search

Kamis, 19 Februari 2026

Detektif Rio dan Hari Ketika Cahaya Itu Kembali ke Langit



Kompas waktu itu tidak lagi bercahaya.

Ia retak—seakan tak sanggup menahan berat peristiwa yang akan disaksikan.

Jarumnya berhenti pada satu titik terakhir:

MADINAH – RABI’UL AWWAL, 11 HIJRIAH

Lorong waktu terbuka…
tanpa cahaya,
tanpa suara.

Detektif Rio melangkah keluar dengan dada sesak.


Kota yang Menahan Napas

Madinah sunyi.
Bukan sunyi malam—melainkan sunyi ketakutan kehilangan.

Di rumah Aisyah r.a., Rasulullah ﷺ terbaring lemah.
Rio tidak mendekat.
Ia berdiri di sudut waktu, menunduk penuh adab.

Ia melihat Nabi ﷺ dalam sakit yang berat, namun wajah beliau tetap memancarkan ketenangan.

Kalimat-kalimat terakhir itu terdengar lirih:

“Shalat… shalat… dan perlakukan orang-orang lemah dengan baik.”

Rio menggigil.
Bahkan di saat terakhir, yang beliau pikirkan adalah umatnya.


Saat yang Tak Terucap

Kepala Rasulullah ﷺ bersandar di dada Aisyah r.a.

Kemudian…
sunyi itu menjadi kenyataan.

Ruh mulia itu kembali kepada Allah SWT.

Rio merasakan waktu seakan berhenti mengalir.

Tak ada teriakan.
Tak ada pengumuman.

Hanya kesedihan yang merambat perlahan…
menyentuh setiap sudut Madinah.


Kesedihan yang Tak Dipercaya

Rio mengikuti langkah para sahabat menuju masjid.

Ia melihat Umar bin Khattab r.a. berdiri dengan pedang terhunus, suara bergetar:

“Barang siapa mengatakan Muhammad telah wafat, akan kupenggal lehernya!”

Rio memahami—ini bukan kemarahan.
Ini penyangkalan seorang pecinta.


Pidato Abu Bakar yang Menguatkan Zaman

Kemudian datang Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a.

Wajahnya basah oleh air mata, namun langkahnya tegas.

Ia masuk, memastikan… lalu keluar menghadap umat.

Dengan suara yang tenang namun menghancurkan hati, ia berkata:

“Barang siapa menyembah Muhammad, maka Muhammad telah wafat.
Dan barang siapa menyembah Allah, maka Allah Maha Hidup dan tidak akan pernah wafat.”

Rio merasakan kalimat itu menyangga runtuhnya dunia.

Umat tersadar.
Tangis pun pecah.


Malam Tanpa Rasulullah ﷺ

Rio menyaksikan malam itu.

Tidak ada kisah heroik.
Tidak ada mukjizat baru.

Hanya:

  • rumah yang kehilangan cahaya,

  • masjid yang terasa kosong,

  • dan umat yang belajar berdiri tanpa kehadiran fisik Nabinya.

Namun…

ajaran beliau tetap hidup.

Rio menulis dalam hatinya:

Rasulullah ﷺ wafat sebagai manusia,
namun risalahnya hidup lebih lama dari waktu.

 


Kembali ke Lorong Waktu

Lorong waktu terbuka untuk terakhir kalinya.

Rio menoleh ke Madinah—kota yang kini memikul amanah terbesar dalam sejarah.

Ia melangkah masuk, membawa kesedihan yang suci, bukan putus asa.


Catatan Penutup Detektif Rio

Di ruang arsipnya, Rio tidak langsung menutup buku.

Ia menulis perlahan—seperti takut salah kata:

“Aku telah melihat Nabi ﷺ bukan sebagai legenda,
tetapi sebagai manusia terbaik yang pernah ada.
Beliau menangis, sakit, memaafkan, dan akhirnya wafat.
Namun apa yang beliau tinggalkan…
adalah cahaya yang tak pernah padam.”

Kompas waktu itu akhirnya hancur menjadi debu.

Rio menutup matanya.

Perjalanan selesai.

Namun tugas umat… baru dimulai.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar