Search

Senin, 26 Januari 2026

Detektif Rio dan Dimensi Pasukan Gajah


Perpustakaan tua itu sunyi. Debu berusia ratusan tahun melayang di antara cahaya lampu kuning redup. Detektif Rio menutup kitab tebal berbahasa Arab Kuno yang baru saja ia baca—kisah tentang serangan pasukan gajah ke Madinah, sebuah peristiwa yang selama ini dianggap hanya sejarah, bukan pengalaman hidup.

Namun ada satu hal ganjil.

Di margin halaman terakhir, terdapat simbol spiral bercahaya—simbol yang hanya muncul pada naskah dimensi waktu.

Saat ujung jarinya menyentuh simbol itu, lantai bergetar. Rak buku berderit. Udara terasa berat, seolah ruang sedang dilipat paksa.

WHOOSH!

Rio terlempar.


Dimensi Perang

Ia terjatuh di atas pasir panas. Bau debu, keringat, dan ketegangan memenuhi udara. Ketika bangkit, Rio melihat pemandangan yang membuat napasnya tercekat.

Di kejauhan—pasukan gajah raksasa bergerak perlahan. Setiap langkah mengguncang tanah. Di punggung mereka berdiri prajurit berzirah, membawa tombak dan panji perang. Langit kelabu, seakan alam ikut menahan napas.

“Ini… bukan rekonstruksi sejarah,” gumam Rio.
“Ini nyata.”

Seorang pemuda berlari ke arahnya.

“Engkau dari mana? Pakaiannya asing!” seru pemuda itu panik.

“Aku… musafir,” jawab Rio cepat. “Apa yang terjadi?”

Pemuda itu menelan ludah.
“Pasukan gajah mendekat. Kami penduduk Madinah bersiap menghadapi yang mustahil.”


Interaksi dengan Penduduk

Rio berjalan menyusuri pemukiman. Ia melihat:

  • Ibu-ibu menenangkan anak-anak dengan doa lirih

  • Para lelaki menggenggam senjata seadanya

  • Para ulama mengangkat tangan ke langit, memohon perlindungan

Tidak ada kepanikan berlebihan. Yang ada justru keteguhan iman.

Seorang lelaki tua berkata pada Rio,
“Kami tak mengandalkan kekuatan kami. Kami mengandalkan keadilan Tuhan.”

Kata-kata itu menghantam batin Rio lebih keras daripada suara gajah.

Sebagai detektif, Rio terbiasa mencari bukti, sebab-akibat, dan logika. Namun di dimensi ini, ia mulai menyadari:

Tidak semua peristiwa besar dimenangkan oleh strategi manusia.


Detik-Detik Penentuan

Saat pasukan gajah semakin dekat, tiba-tiba angin berubah arah. Langit menggelap. Burung-burung kecil bermunculan—jumlahnya tak terhitung.

Penduduk terdiam.

Rio menatap langit dengan mata membesar.
“Ini… momen yang tertulis di kitab.”

Ia sadar, ia tidak dikirim ke masa lalu untuk mengubah sejarah,
melainkan menjadi saksi langsung kebesaran peristiwa itu.

Cahaya putih kembali menyelubungi tubuhnya.


Kembali ke Perpustakaan

Rio terhuyung di antara rak buku. Kitab di tangannya kini tertutup rapat. Simbol spiral telah hilang.

Namun di hatinya tertinggal sesuatu yang tak akan pernah pudar:

  • suara doa penduduk Madinah

  • getaran tanah oleh pasukan gajah

  • keyakinan bahwa iman mampu melampaui kekuatan militer terbesar

Detektif Rio menulis catatan terakhir di bukunya:

“Sejarah bukan sekadar masa lalu.
Ia adalah dimensi hidup yang menyimpan pelajaran bagi mereka yang berani menyaksikannya.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar