Sejarah
Kota Surabaya Per Periode :
Periode
1300 (Majapahit-Hindu)
Menurut
hipotesis Von Faber, Surabaya didirikan tahun 1275 M oleh Raja Kertanegara
sebagai tempat pemukiman baru bagi prajuritnya yang berhasil menumpas
pemberontakan Kemuruhan tahun 1270 M. Hipotesis yang lain mengatakan bahwa
Surabaya dulu bernama Ujung Galuh.
Pada
tanggal 31 Mei 1293 Raden Wijaya (Pendiri Kerajaan Majapahit) dengan keberanian
dan semangat dan jiwa kepahlawanan berhasil menghancurkan dan mengusir tentara
Tar-Tar, pasukan kaisar Mongolia dari bumi Majapahit. Tentara Tar-Tar
meninggalkan Majapahit melalui Ujung galuh, sebuah desa yang terletak di ujung
utara Utara Surabaya, di muara Kali Mas.
Dalam
prasasti Trowulan I, berangka 1358 M terungkap bahwa Surabaya (churabhaya)
masih berupa desa ditepian sungai Brantas sebagai salah satu tempat
penyeberangan penting sepanjang sungai Brantas.
Dari tahun
1483-1542 Surabaya merupakan bagian dari wilayah kerajaan Demak. Sesudah itu
kurang lebih 30 tahun Surabaya ada di bawah kekuasaan supremasi Madura. dan
antara 1570 sampai 1587 Surabaya ada di bawah dinasti Pajang.
Pada tahun
1596, orang Belanda pertama kali datang ke Jawa Timur di bawah pimpinan
Cornelis Houtman.
Periode
1600 (Islam)
Pada tahun
1612 Surabaya sudah merupakan bandar perdagangan yang ramai. Banyak pedagang
Portugis membeli rempah-rempah dari pedagang pribumi. Pedagang pribumi membeli
rempah-rempah secara sembunyi-sembunyi dari Banda, meskipun telah ada
persetujuan dengan VOC yang melarang orang-orang Banda berdagang untuk
kepentingannya sendiri.
Setelah
tahun 1625 Surabaya jatuh ke tangan kerajaan Mataram. Setelah takluk dari
kerajaan Mataram, tahun 1967 Surabaya mengalami kekacauan akibat serangan para
bajak laut yang berasal dari Makasar. Pada saat keadaan tidak menentu inilah
muncul nama Trunojoyo, seorang pangeran dari Mataram dari suku Madura, yang
memberontak terhadap Raja Mataram. Dengan pertolongan orang-orang Makasar
Trunojoyo berhasil menguasai Madura dan Surabaya.
Di bawah
kekuasaan Trunojoyo, Surabaya menjadi pelabuhan transit dan tempat penimbunan
barang-barang dari daerah subur, yaitu delta Brantas. Kalimas menjadi “sungai
emas” yang membawa barang-barang berharga dari pedalaman.
Dengan
alasan ingin membantu Mataram, pada tahun 1677 Kompeni mengirim Cornelis
Speelman yang dilengkapi dengan angkatan perang yang besar ke Surabaya. Benteng
Trunojoyo akhirnya dapat dikuasai Speelman. Kemudian Gubernur Jenderal Couper
mengembalikan Surabaya kepada Mataram.
Pada abad
18, tahun 1706, Surabaya menjadi ajang pertempuran antara Kompeni dibawah
pimpinan Govert Knol dan Untung Surapati.
Setelah
peperangan terus menerus, tanggal 11 Nopember 1743 Paku Buwono II dari kerajaan
Mataram dan Gubernur Jenderal Van Imhoff di Surakarta menanda-tangani sebuah
persetujuan yang menyatakan bahwa ia menyerahkan haknya atas pantai utara Pulau
Jawa dan Madura(termasuk diantaranya diSurabaya) kepada pihak VOC yang telah
memberikan bantuan hingga ia berhasil naik tahta di kerajaan Mataram.Tetapi
pasukan Hindia Belanda baru mengunjungi Surabaya pada tanggal 11-April-1746.
VOC
mendirikan struktur pemerintahan baru di daerah pantai utara Pulau Jawa dan
Madura dengan kedudukan gubernur di Semarang. Di Surabaya diangkat seorang
Gezaghebber in den Oostthoek (Penguasa Bagian Timur Pulau Jawa).
Antara
Tahun 1794-1798 Penguasa Bagian Timur Pulau Jawa adalah Dirk van Hogendorp.
Pada tanggal 6 September 1799, Fredrick Jacob Rothenbuhler menggantikan Van
Hogendorp berkuasa sampai tahun 1809. Pada tahun 1807 Surabaya mendapat
Serangan dari angkatan laut Inggris di bawah pimpinan Admiral Pillow yang
akhirnya meninggalkan Surabaya.
Setelah
kebangkrutan VOC, Hindia Belanda diserahkan kepada pemerintah Belanda. Tahun
1808-1811 Surabaya di bawah pemerintahan langsung Gubernur Jenderal Herman
Willem Daendels yang menjadikan Surabaya sebagai kota Eropa kecil. Surabaya
dibangun menjadi kota dagang sekaligus kota benteng.
Tahun
1811-1816 Surabaya berada dibawah kekuasaan Inggris yang dijabat oleh Raffles.
Tahun 1813 Surabaya menjadi sebuah kota yang dapat dibanggakan, sampai-sampai
William Thorn dalam buku Memoir of Conguest of Java berpendapat bahwa Kota
Gresik (pada masa sebelumnya menjadi kota pelabuhan yang ramai) sudah menjadi
kuno bila dibandingkan dengan Surabaya.
Setelah
itu Surabaya kembali dikuasai Belanda. Tahun 1830-1850, Surabaya betul-betul
berbentuk sebagai kota benteng dengan benteng Prins Hendrik ada di muara
Kalimas. Pada tahun 1870, Surabaya terus berkembang ke selatan menjadi kota
modern.
Periode
1900
Tanggal 1
April 1906 Surabaya ditetapkan sebagai kotamadya (gemeente) berdasarkan
peraturan 1 Maret 1906. Sejak saat itu semua pemerintahan dijalankan oleh Dewan
Kota (Gemeente Raad), dibawah pimpinan Asisten Residen AR. Lutter yang
merangkap sebagai walikota sementara.
Periode
Penjajahan Belanda
Pada tahun
1942 sampai tahun 1945, kota Surabaya ada dibawah penguasaan Jepang. Pada masa
penjajahan Jepang selama 3 tahun tersebut, keadaan kota boleh dikatakan tidak
mengalami perkembangan sama sekali.
Periode
Perang Kemerdekaan
Proklamasi
17 Agustus 1945 membakar semangat arek-arek Surabaya untuk melawan penjajah,
hingga terjadilah Surabaya Inferno yang mengguggah bangsa tertindas bangkit
melawan penjajah.
Pada hari
Senin, 3 September 1945 Residen Soedirman memproklamasikan Pemerintahan RI di
Jawa Timur dan di sambut aksi pengibaran bendera di seluruh pelosok Surabaya.
Pesawat terbang Belanda menyebarkan pamflet pengumuman bahwa Sekutu/Belanda
akan mendarat di Surabaya yang menyebabkan orang Belanda dengan sombong
mengirbakan bendera Belanda di Orange Hotel pada tanggal 19 September 1945, hal
ini menimbulkan kemarahan arek-arek Suroboyo sehingga terjadilah insiden
berdarah dengan terbuhuhnya Mr. Ploegman. Merah putih biru dirobek birunya dan
berkibarlah Sang Merah Putih dengan megahnya di angkasa.
Tanggal 25
Oktober 1945 tentara Inggris mendarat di Surabaya, brigade ke-49 dengan
kekuatan 6.000 serdadu dipimpin Brig. Jend. A.W.S. Mallaby, pasukan
berpengalaman dari kancah perang dunia yang terdiri dari pasukan Gurkha dan
Nepal dari India Utara. Esok harinya tanggal 26-27 Oktober 1945 beberapa
pesawat Inggris menjatuhkan selebaran yang memerintahkan agar penduduk Surabaya
dan Jawa Timur menyerahkan senjata. Tanggal 28 Oktober 1945 terjadilah insiden
di seluruh pelosok kota.
Puncaknya
tanggal 30-31 Oktober 1945 tentara Inggris meninggalkan Gedung Internatio Brig.
Mallaby meninggal, mobilnya meledak terbakar. Tanggal 9 Nopember 1945 ultimatum
yang ditandatangani oleh May. Jend. E.S. Masergh Panglima Divisi Tentara Sekutu
di Jawa Timur, minta rakyat menyerahkan senjata tanpa syarat sebelum jam 18.00
dan apabila tidak melaksanakan sampai jam 06.00 tanggal 10 Nopember 1945 pagi
akan ditindak dengan kekuatan militer Angkatan darat, Laut dan Udara.
Berturut-turut
pada jam 21.00 & 23.00 setelah lewat Pemerintah Pusat di Jakarta tidak berhasil
merubah pendirian Pimpinan Tentara Inggris untuk mencabut ultimatumnya.
Gubernur Soerjo berpidato yang merupakan penegasan, “Lebih baik hancur daripada
dijajah kembali” . Tanggal 10 Nopember 1945, terjadi pertempuran dahsyat di
pelosok kota, perlawanan massal rakyat Surabaya melawan tentara Sekutu,
sehingga korban berjatuhan di mana-mana, selama 18 hari Surabaya bagaikan
neraka. Dengan hancurnya kubu laskar rakyat di Gunungsari pada tanggal 28
Nopember 1945 menyebabkan sementara seluruh Kota Surabaya jatuh ke tangan
Sekutu.
Mengenang
kepahlawanan arek-arek Surabaya yang berjuang dengan gagah berani sampai titik
darah penghabisan, demi kedaulatan dan tegaknya cita-cita bangsa Indonesia maka
dibangun Monumen Tugu Pahlawan yang diresmikan tanggal 10 Nopember 1962 oleh
Presiden RI.
Selain itu
juga dibangun Monumen Bambu Runcing untuk mengenang semangat arek-arek Suroboyo
yang dengan gagah berani melawan penjajah dengan senjata seadanya walaupun
hanya dengan sebilah bambu yang ujungnya diruncingkan.
Sumber:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar