Search

Jumat, 28 November 2025

Menelantarkan wanita tua - legenda kelam merayap di tanah Jepang

Dahulu kala, legenda kelam merayap di tanah Jepang, menceritakan praktik kuno bernama ubasute—secara harfiah berarti "menelantarkan wanita tua."


Kisah-kisah rakyat ini menggambarkan skenario ekstrem: kerabat yang sakit atau lansia dibawa ke tempat terpencil, seperti gunung atau hutan, lalu ditinggalkan untuk menghadapi ajal.
Meskipun fungsi utama dongeng seperti Ubasuteyama adalah untuk menginspirasi bakti anak (filial piety) dan mencegah penelantaran, legenda tersebut kini mengambil bentuk baru yang mengkhawatirkan.
Praktik yang dianggap terbatas pada ranah cerita rakyat ini disinyalir sedang "dihidupkan kembali" di tengah tantangan demografi dan ekonomi modern Jepang.
Hari ini, krisis "bom waktu demografi" Jepang telah menciptakan lingkungan yang memaksa cerita lama menjadi realitas baru. Ketika ekonomi negara telah menyusut selama sebagian besar dekade terakhir, jumlah warga senior yang mencapai usia 80-an, 90-an, dan bahkan 100-an tahun terus meningkat.
Sayangnya, seperti dilansir laman Business Insider, generasi muda mengalami stagnasi dalam memiliki anak. Akibatnya, ada lebih sedikit orang yang dapat menopang sistem jaminan sosial, menjaga tenaga kerja tetap penuh, dan yang paling penting, merawat lansia.
Sejak tahun 2011, indikator suram menunjukkan popok dewasa bahkan telah mengungguli penjualan popok bayi. Tren mengerikan ini, di mana lansia menyumbang 26,7% dari 127,11 juta penduduk Jepang pada tahun 2016, mendorong banyak keluarga ke ambang batas daya dukung.
Dalam kondisi seperti itu, bagaimana sebuah praktik kuno yang menyerupai senicide (pembunuhan orang tua) dapat menemukan jalannya kembali ke masyarakat abad ke-21?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar