Pada Agustus 2015, sebuah kejadian tidak biasa terjadi di Bandara Internasional Beijing Capital. Insiden ini menjadi contoh unik tentang dampak tak terduga dari aturan keamanan bandara, khususnya terkait pembatasan cairan dalam bagasi kabin.
Seorang penumpang perempuan berusia sekitar 40-an tahun, yang diidentifikasi bermarga Zhao (atau Zhou dalam beberapa laporan), sedang transit di Beijing. Ia baru tiba dari Amerika Serikat dan akan melanjutkan penerbangan domestik menuju Wenzhou.
Saat melewati pemeriksaan keamanan, petugas bandara memberitahunya bahwa ia tidak diizinkan membawa botol Rémy Martin XO Excellence berukuran 700 ml ke dalam kabin pesawat. Botol tersebut jauh melebihi batas maksimal cairan yang diperbolehkan, yaitu 100 ml.
Cognac tersebut bernilai sekitar 200 dolar AS, dan penumpang itu enggan meninggalkannya atau membiarkannya terbuang sia-sia. Dalam keputusan yang cukup nekat, ia pergi ke sudut area bandara dan meminum seluruh isi botol tersebut sendirian.
Dengan kadar alkohol sekitar 40 persen, efeknya pun cepat terasa. Tak lama kemudian, ia ditemukan di area gerbang keberangkatan dalam kondisi tidak stabil—berteriak, bertingkah aneh, hingga akhirnya terjatuh ke lantai.
Melihat kondisinya yang sangat mabuk, kapten pesawat memutuskan bahwa penumpang tersebut tidak layak untuk terbang, demi keselamatan dirinya sendiri maupun penumpang lain. Polisi bandara kemudian membawanya menggunakan kursi roda ke area istirahat, di mana ia berada di bawah pengawasan medis selama beberapa jam.
Pada malam hari, setelah sadar sepenuhnya, perempuan tersebut menyampaikan rasa terima kasihnya kepada petugas atas bantuan dan perawatan yang diberikan. Ia kemudian dijemput dan dipulangkan oleh anggota keluarganya.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa aturan keamanan bandara, meskipun terkadang terasa merepotkan, dibuat demi keselamatan bersama—dan bahwa keputusan impulsif bisa berujung pada konsekuensi yang tak terduga.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar