Pada 6 Agustus 1945, Tsutomu Yamaguchi sedang berada di Hiroshima dalam perjalanan dinas pekerjaannya. Pagi itu berubah menjadi mimpi buruk ketika bom atom dijatuhkan dan meledak hanya sekitar 3 kilometer dari tempat ia berada.
Ledakan tersebut menyebabkan Yamaguchi mengalami luka bakar parah, kebutaan sementara, serta gendang telinga yang pecah. Banyak orang tidak selamat pada hari itu, tetapi Yamaguchi berhasil bertahan hidup—meski dalam kondisi terluka dan trauma berat.
Dengan tubuh masih diperban dan belum pulih sepenuhnya, ia memutuskan kembali ke rumahnya di Nagasaki. Namun, takdir seolah belum selesai mengujinya.
Tiga hari kemudian, pada 9 Agustus 1945, Yamaguchi sedang menjelaskan kepada atasannya tentang dahsyatnya ledakan di Hiroshima. Tepat pada pukul 11.02, sejarah kembali terulang. Bom atom kedua meledak di Nagasaki.
Sekali lagi, Yamaguchi selamat. Kali ini, nyawanya tertolong karena berada di dalam bangunan beton yang melindunginya dari dampak langsung ledakan. Lebih dari itu, istri dan bayi laki-lakinya juga selamat dari serangan tersebut.
Puluhan tahun kemudian, pemerintah Jepang secara resmi mengakui Tsutomu Yamaguchi sebagai satu-satunya orang yang dikonfirmasi selamat dari dua ledakan bom atom.
Sepanjang hidupnya, ia harus menanggung berbagai penyakit akibat radiasi. Namun, Yamaguchi memilih untuk bersuara. Ia berbicara di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), menyebut senjata nuklir sebagai “kejahatan terhadap kemanusiaan.”
Tsutomu Yamaguchi tidak “mengalahkan” bom atom. Ia hidup dengan dampaknya—selama 93 tahun. Kisahnya menjadi pengingat nyata tentang penderitaan manusia akibat perang dan bahaya senjata nuklir bagi masa depan umat manusia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar