Detektif Rio ke peristiwa agung berikutnya,
Fathu Makkah (8 Hijriah)
MAKKAH – RAMADAN, 8 HIJRIAH
Pasukan Tanpa Kesombongan
Kepala Rasulullah ﷺ tertunduk rendah di atas untanya—tawadhu’, bukan euforia kemenangan.
Pertemuan dengan Sahabat di Gerbang Kota
Di salah satu gerbang, Rio berpapasan dengan seorang sahabat yang wajahnya penuh ketegasan namun teduh.
Bilal bin Rabah r.a.
Mantan budak yang dulu disiksa di kota ini.
“Apakah kota ini akan dibalas?” tanya Rio lirih.
Kata-kata itu menancap dalam di hati Rio.
Makkah yang Tak Melawan
“Siapa yang masuk rumah Abu Sufyan, aman.Siapa yang menutup pintunya, aman.Siapa yang masuk Masjidil Haram, aman.”
Rio menyadari—bahkan musuh lama pun dilindungi.
Di Hadapan Ka’bah
Rio mengikuti arus manusia menuju Ka’bah.
“Telah datang kebenaran, dan lenyaplah kebatilan.”
Suara yang Pernah Disiksa
Bilal bin Rabah r.a. naik ke atas Ka’bah dan mengumandangkan adzan.
Suara itu menggema di kota yang dulu memaksanya berbaring di atas pasir panas.
Rio menitikkan air mata.
Pidato Pemaafan
Penduduk Makkah berkumpul, menunggu hukuman.
Namun Rasulullah ﷺ bersabda:
“Wahai kaum Quraisy, menurut kalian apa yang akan aku lakukan kepada kalian?”
Rasulullah ﷺ berkata:
“Pergilah, kalian semua bebas.”
Pelajaran Fathu Makkah
Rio menulis dalam benaknya:
-
Kemenangan sejati adalah mengalahkan ego
-
Kekuatan terbesar adalah memaafkan saat mampu membalas
-
Islam menang bukan dengan darah, tetapi dengan akhlak
Kembali ke Masa Kini
Di ruang arsipnya, ia menulis penutup perjalanan panjang itu:
“Badar mengajarkan iman.Uhud mengajarkan ketaatan.Khandaq mengajarkan keteguhan.Fathu Makkah mengajarkan kasih sayang.”
Kompas waktu berhenti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar