Pada Perang Khandaq (Parit), sahabat Nabi ﷺ yang paling tepat dengan julukan “Singa Allah (Asadullah)” adalah Ali bin Abi Thalib r.a.
Kompas waktu kembali berputar.
Namun kali ini, jarumnya tidak bergetar liar—ia bergerak pelan, berat, seakan membawa beban besar.
KHANDAQ – 5 HIJRIAH
Di hadapannya terbentang parit panjang dan dalam, membelah tanah Madinah.
“Inilah strategi yang mengubah peperangan Arab selamanya…” bisik Rio.
Madinah yang Terkepung
-
Diserang gabungan Quraisy dan sekutu-sekutunya
-
Jumlah musuh ribuan
-
Persediaan makanan menipis
-
Ketakutan dan ujian iman menyusup ke hati
Tantangan dari Seberang Parit
Teriakan menggema.
Seorang pendekar Quraisy, Amr bin Abdu Wudd, berhasil melompati parit. Ia dikenal sebagai ksatria tak terkalahkan.
“Siapa yang berani melawanku?” teriaknya angkuh.
Munculnya Singa Allah
Dari barisan kaum Muslimin, seorang pemuda melangkah maju. Wajahnya tegas, sorot matanya tajam, langkahnya mantap.
Ali bin Abi Thalib r.a.
Rasulullah ﷺ mengizinkannya maju.
Rio berdiri tak jauh, seakan waktu sengaja mempertemukannya dengan sang Singa Allah.
Tatapan yang Tak Gentar
Sebelum duel dimulai, Ali r.a. menoleh sejenak. Tatapannya bertemu dengan Rio—bukan sebagai orang asing, tapi sebagai saksi zaman.
“Doakan agar aku tetap ikhlas,” ucap Ali r.a. singkat.
Duel Penentu Sejarah
Ali bin Abi Thalib r.a. menang.
Bukan sekadar kemenangan fisik, tapi runtuhnya mental musuh. Pasukan Quraisy mulai kehilangan keberanian.
Rasulullah ﷺ bersabda (yang maknanya dikenal dalam sejarah):
“Satu tebasan Ali pada hari Khandaq lebih utama daripada ibadah manusia dan jin.”
Percakapan Singkat yang Abadi
Setelah duel, Ali r.a. duduk menenangkan napas. Rio mendekat, penuh hormat.
Ali r.a. tersenyum tipis.
“Jika Allah bersamamu, apa yang perlu ditakuti?”
Pelajaran Perang Parit
-
Ilmu dan strategi (ide parit Salman Al-Farisi r.a.)
-
Kesabaran
-
Keimanan saat terdesak
-
Keberanian satu orang yang ikhlas
Rio menulis dalam hatinya:
“Khandaq mengajarkan bahwa satu iman yang kokoh bisa menahan ribuan musuh.”
Kembali ke Lorong Waktu
Angin kencang bertiup. Pasukan sekutu tercerai-berai oleh badai yang dikirim Allah SWT.
Lorong waktu kembali terbuka.
Sebelum pergi, Rio menatap Madinah—kota kecil yang bertahan bukan karena tembok, tapi karena iman dan persaudaraan.
Di ruang arsipnya, ia menutup buku dengan satu kalimat terakhir:
“Aku telah melihat Singa Allah.Dan kekuatannya bukan pada pedang—melainkan pada tauhid.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar