BADAR – 17 RAMADAN, 2 HIJRIAH
Dengan satu langkah, ia memasuki lorong waktu.
Padang Pasir Badar
Angin panas menyambutnya. Pasir luas membentang, diselingi sumur-sumur air Badar yang menjadi rebutan. Dari kejauhan, Rio melihat dua kubu yang timpang jumlahnya:
-
313 kaum Muslimin, dengan perlengkapan terbatas
-
±1.000 kaum Quraisy, lengkap dengan pasukan dan persenjataan
Namun ada sesuatu yang membuat Rio merinding.
Keyakinan.
Di barisan kaum Muslimin, ia melihat wajah-wajah yang lelah, tetapi tenang. Mereka bukan prajurit profesional—ada petani, pedagang, bahkan remaja. Namun hati mereka teguh.
Doa yang Menggetarkan Langit
Dari balik sebuah batu besar, Rio menyaksikan Nabi Muhammad ﷺ berdoa dengan sungguh-sungguh, memohon pertolongan Allah. Getaran spiritualnya terasa nyata—bahkan bagi seorang detektif yang telah menyaksikan banyak keajaiban waktu.
Iman adalah bukti tertinggi.
Benturan Dua Keyakinan
Terompet perang Quraisy menggema. Pasir berhamburan. Pedang beradu. Panah melesat.
Rio menyaksikan bagaimana kaum Muslimin yang sedikit justru bergerak dengan disiplin dan keberanian luar biasa. Setiap langkah mereka seakan terjaga.
Lalu… sesuatu yang tak bisa dijelaskan logika modern terjadi.
Kemenangan yang Bukan Tentang Angka
Saat debu mulai mereda, Rio melihat kenyataan yang akan tercatat dalam sejarah:
Kaum Muslimin menang.
Jika Allah menolong, maka tak ada yang bisa mengalahkan.
Kembali ke Masa Kini
Lorong waktu kembali terbuka. Sebelum melangkah masuk, Rio menoleh sekali lagi ke Padang Badar—tempat kecil yang mengubah arah sejarah Islam selamanya.
Di ruang arsipnya, Rio menutup buku catatan dan menulis satu kalimat:
“Perang Badar bukan sekadar pertempuran. Ia adalah pelajaran abadi tentang iman, tawakal, dan kemenangan sejati.”
Namun di hati Detektif Rio, cahaya itu tetap menyala.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar