Kompas waktu itu kembali bergetar hebat.
Jarumnya tidak menunjuk kemenangan,
melainkan peringatan.
UHUD – 3 HIJRIAH
Detektif Rio terhisap ke dalam pusaran cahaya, lalu terlempar ke sebuah lembah luas. Di hadapannya menjulang Gunung Uhud, kokoh dan sunyi—seakan menyimpan luka sejarah.
Angin membawa aroma besi dan debu.
Perang akan segera dimulai.
Barisan Kaum Muslimin
Rio melihat 700 kaum Muslimin bersiap. Jumlah mereka telah berkurang—sebagian orang munafik memilih mundur sebelum perang dimulai.
Di kaki gunung, Rasulullah ﷺ mengatur strategi dengan penuh ketenangan. Rio menyadari satu titik penting dalam sejarah:
➡️ Pasukan pemanah ditempatkan di atas bukit kecil (Jabal Rumat)
➡️ Mereka diperintahkan untuk tidak meninggalkan posisi apa pun yang terjadi
Rio mencatatnya dalam hati.
“Perintah ini akan menentukan segalanya…”
Pertemuan dengan Seorang Sahabat
Saat Rio menyingkir ke sisi bukit, ia berpapasan dengan seorang sahabat muda yang sedang mengencangkan baju perangnya. Wajahnya penuh semangat, namun matanya jernih.
“Engkau bukan dari Madinah,” ujar sahabat itu lembut, tanpa curiga.
“Aku… hanya seorang pengamat,” jawab Rio jujur.
Sahabat itu tersenyum.
“Doakan kami. Hari ini kami berdiri demi Rasulullah ﷺ.”
Rio menunduk penuh hormat.
Dalam dadanya, detak sejarah terasa nyata.
Awal Kemenangan
Perang meletus.
Kaum Muslimin unggul di awal pertempuran. Barisan Quraisy terdesak. Rio melihat bagaimana keberanian para sahabat membuat musuh kocar-kacir.
Sorak tak terdengar, tapi kemenangan mulai terasa.
Namun kemudian…
sejarah berbelok.
Kesalahan yang Mengubah Segalanya
Dari kejauhan, Rio melihat sebagian pemanah meninggalkan posnya, mengira perang telah usai dan harta rampasan telah tiba.
Rio ingin berteriak.
Ingin memperingatkan.
Namun lorong waktu menahannya.
Sejarah harus berjalan.
Dari celah bukit, Khalid bin Walid—yang saat itu masih di pihak Quraisy—melihat celah itu dan memimpin serangan balik dari belakang.
Sekejap saja, keadaan berbalik.
Kekacauan dan Luka
Rio menyaksikan para sahabat bertahan dengan tubuh dan iman. Ia melihat darah, jerih payah, dan pengorbanan.
Ia menyaksikan Rasulullah ﷺ terluka, wajah beliau berdarah, namun tetap menyeru dengan keteguhan:
“Aku adalah Nabi, tidak berdusta.”
Rio merasakan lututnya gemetar.
Tak ada tragedi yang lebih menyayat daripada melihat kebenaran disakiti, namun tetap tegar.
Kesetiaan Seorang Sahabat
Di tengah kekacauan, Rio kembali melihat sahabat yang tadi ia temui. Tubuhnya terluka, namun ia masih berdiri di dekat Rasulullah ﷺ, melindungi beliau dengan tubuhnya.
“Kenapa engkau masih bertahan?” tanya Rio lirih.
Sahabat itu menjawab dengan napas berat:
“Karena hidup dan mati kami… untuk Allah dan Rasul-Nya.”
Kata-kata itu menghantam hati Rio lebih keras dari dentang pedang mana pun.
Pelajaran Uhud
Perang Uhud berakhir bukan dengan kemenangan mutlak, tetapi dengan pelajaran abadi:
-
Ketaatan lebih penting dari jumlah
-
Disiplin lebih kuat dari senjata
-
Cinta kepada Rasulullah ﷺ diuji di saat paling sulit
Rio menyadari:
Uhud bukan tentang kalah, tetapi tentang pendidikan iman.
Kembali ke Masa Kini
Lorong waktu kembali terbuka.
Sebelum pergi, Rio menatap Gunung Uhud—gunung yang kelak disebut Rasulullah ﷺ:
“Uhud mencintai kami, dan kami mencintainya.”
Di ruang arsipnya, Detektif Rio menulis dengan tangan bergetar:
“Badar mengajarkan kami tentang pertolongan Allah.
Uhud mengajarkan kami tentang ketaatan dan kerendahan hati.”
Kompas waktu pun diam.
Namun pelajaran Uhud…
terus hidup dalam jiwa Detektif Rio.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar