Search

Selasa, 29 September 2026

Detektif Rio — Ruangan yang Tidak Ada


Jam menunjukkan pukul 21.17.
Sebagian besar lorong telah sepi.
Rio masih berdiri di depan papan denah bangunan Lapas Cibinong, memperhatikan garis-garis yang dibuat dengan pensil.
Ada sesuatu yang tidak masuk akal.
"Ruangan yang dikunci..."
Ia mengulang kalimat dari amplop tadi.
Jangan cari ruangan yang dikunci.
Pesan itu jelas bukan larangan biasa.
Seseorang sengaja ingin membuatnya penasaran.
Rio membuka kembali denah.
Ruang administrasi.
Gudang.
Ruang pemeriksaan.
Blok hunian.
Koridor menuju SAE.
Semuanya tercatat.
Tetapi ketika jarinya mengikuti sisi bangunan bagian belakang, ia berhenti.
Ada ruang kosong.
Tidak ada nomor ruangan.
Tidak ada keterangan fungsi.
Hanya sebuah persegi panjang kecil di antara dua ruangan lain.
Rio mengerutkan dahi.
"Ini apa?"
Ia mengambil penggaris.
Ukuran pada denah dibandingkan dengan ukuran bangunan sebenarnya.
Persegi panjang itu terlalu besar untuk sekadar dinding kosong.
Berarti ada ruang di sana.
Tetapi ruangan itu tidak tercatat.
1. Kunci Ketiga
Rio memanggil petugas yang tadi mendampinginya.
"Masih ada akses ke bagian belakang gedung?"
Petugas itu mengangguk ragu.
"Ada. Tapi sudah lama tidak dipakai."
"Kenapa?"
"Katanya penyimpanan."
"Katanya lagi?"
Petugas itu tersenyum kaku.
"Di tempat seperti ini, Mas, banyak hal yang orang tahunya cuma dari katanya."
Rio mengangguk.
"Kalau begitu malam ini kita cari faktanya."
Mereka berjalan melewati koridor.
Lampu neon berdengung.
Sepatu mereka menghasilkan gema pendek di lantai.
Sampai akhirnya mereka tiba di sebuah pintu besi.
Ada gembok.
Petugas itu mengeluarkan satu kunci.
Tidak cocok.
Ia mencoba kunci kedua.
Masih tidak cocok.
Rio menyilangkan tangan.
"Katanya ruang penyimpanan?"
"Iya."
"Kenapa kuncinya tidak ada?"
Petugas itu terdiam.
Kemudian ia mengeluarkan satu gantungan kunci kecil dari sakunya.
"Ini kunci lama."
Kunci itu masuk.
Klik.
Pintu terbuka beberapa sentimeter.
Udara lembap keluar dari dalam.
Rio menyalakan senter.
Ruangan itu kosong.
Hampir kosong.
Ada rak besi.
Beberapa kardus.
Satu meja tua.
Dan sebuah lemari arsip yang sudah berdebu.
Rio mendekat.
Pada lemari itu terdapat tiga bekas label yang sudah dicabut.
Tetapi satu label masih tersisa.
SAE — 2026
Rio berhenti.
"Ini dia."
2. Berkas yang Hilang
Lemari itu berisi map-map lama.
Rio membuka satu demi satu.
Januari.
Februari.
Maret.
April.
Mei.
Juni.
Semua ada.
Namun ketika sampai September, ada sesuatu yang aneh.
Berkas tanggal 23 sampai 27 September tidak ada.
Lima hari.
Tepat ketika investigasi berlangsung.
Rio menatap petugas di sampingnya.
"Siapa yang mengambil berkas ini?"
"Saya tidak tahu."
"Siapa yang punya akses?"
Petugas itu menyebut beberapa nama.
Rio mencatat semuanya.
Lalu ia menemukan sesuatu di bagian bawah lemari.
Sebuah map tipis terjepit di belakang rak.
Tidak berlabel.
Ia menariknya keluar.
Isinya hanya tiga lembar.
Lembar pertama adalah daftar kegiatan.
Lembar kedua berupa salinan jadwal.
Lembar ketiga membuat Rio membeku.
Sebuah foto.
Foto bagian belakang SAE.
Di foto itu tampak sebuah pintu kecil yang tidak pernah ia lihat dalam denah resmi.
Di bawah foto terdapat tulisan tangan:
Pintu 3 — jangan digunakan tanpa izin.
Rio memperbesar foto menggunakan ponselnya.
Ada sesuatu di dekat pintu.
Sebuah kamera.
Bukan kamera pengawas yang mereka cari sebelumnya.
Kamera lain.
Mengarah langsung ke pintu.
"Jadi selama ini..."
Rio menatap foto itu.
"Yang hilang bukan cuma rekamannya."
3. Saksi yang Berubah Cerita
Pukul 22.06.
Rio meminta satu orang untuk dipanggil.
Seorang staf yang sebelumnya memberikan keterangan mengenai aktivitas di SAE.
Namanya Dimas.
Dimas masuk dengan wajah tegang.
"Duduk."
Rio mendorong sebuah dokumen ke arahnya.
"Anda mengatakan kemarin bahwa pada tanggal 25 September tidak ada kegiatan khusus di SAE."
"Betul."
Rio membuka foto.
"Kalau begitu apa ini?"
Dimas menatap foto tersebut.
Wajahnya berubah.
Hanya sepersekian detik.
Tapi Rio melihatnya.
"Itu pintu belakang."
"Anda tahu pintu itu?"
Dimas mengangguk perlahan.
"Dulu ada."
"Dulu?"
"Sudah tidak digunakan."
"Sejak kapan?"
Dimas berpikir.
"Sudah lama."
Rio mengambil dokumen lain.
"Di sini Anda mengatakan pintu itu masih digunakan untuk akses logistik."
Dimas diam.
"Mana yang benar?"
Tidak ada jawaban.
Rio menunggu.
Lima detik.
Sepuluh detik.
Akhirnya Dimas berkata,
"Saya salah."
Rio tidak langsung menjawab.
"Bagian mana?"
"Saya lupa."
"Anda lupa atau Anda mengubah keterangan?"
Dimas menunduk.
Suasana menjadi hening.
Kemudian Dimas berbisik,
"Pak, saya cuma mengikuti perintah."
Rio menatapnya tajam.
"Perintah siapa?"
Dimas membuka mulut.
Tetapi sebelum sebuah nama keluar, terdengar suara keras dari luar.
BRAK!
Semua orang menoleh.
Lampu koridor tiba-tiba padam.
Gelap.
Petugas yang berjaga langsung bergerak.
Rio berdiri.
"Jangan ada yang keluar."
Namun dari ujung lorong terdengar suara langkah kaki.
Cepat.
Seseorang sedang berlari.
Rio mengambil senter dan mengejar.
4. Pintu Ketiga
Langkah kaki itu menghilang di tikungan.
Rio sampai di area belakang.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya satu pintu besi.
Pintu yang sama seperti di foto.
Pintu 3.
Rio mendekatinya.
Pintunya tidak terkunci.
Padahal beberapa menit sebelumnya, ruangan itu disebut sudah lama tidak digunakan.
Ia mendorongnya perlahan.
Kreeeek...
Di dalam terdapat ruangan sempit.
Sebuah meja.
Kursi.
Monitor lama.
Dan sebuah perangkat penyimpanan digital.
Rio menyorotinya dengan senter.
Seseorang telah mencoba mengambil perangkat itu.
Kabelnya tercabut.
Tetapi tidak berhasil membawanya.
Rio mengangkat benda tersebut.
"Kalau ini masih menyimpan rekaman..."
Ia berhenti.
Ada suara dari belakang.
"Jangan."
Rio berbalik.
Dimas berdiri di ambang pintu.
Wajahnya pucat.
"Kalau Anda buka itu," katanya, "semua orang akan tahu apa yang terjadi malam itu."
Rio menatapnya.
"Malam apa?"
Dimas tidak menjawab.
Rio melangkah mendekat.
"Malam apa, Dimas?"
Dimas akhirnya mengangkat wajah.
Dan untuk pertama kalinya, ia menyebut sebuah tanggal.
"Tanggal 24 September."
Rio terdiam.
Tanggal itu ternyata satu hari setelah Ombudsman mengeluarkan siaran pers mengenai temuan di Lapas Cibinong.
Rio menatap perangkat penyimpanan di tangannya.
Kemudian ia tersenyum tipis.
"Berarti sekarang kita tahu kapan harus mulai melihat rekamannya."
Dimas menggeleng cepat.
"Pak... bukan rekamannya yang paling berbahaya."
"Apa?"
Dimas menunjuk perangkat itu.
"Yang paling berbahaya adalah siapa yang merekam."
Rio menatap layar monitor yang tiba-tiba menyala.
Satu file muncul.
Namanya sederhana:
24-09-2026_23.47
Rio mengkliknya.
Layar berubah hitam.
Kemudian terdengar suara seseorang dari rekaman.
Suara laki-laki.
Pelan.
Namun jelas.
"Kalau besok mereka datang, pindahkan semuanya."
Rio membeku.
Rekaman itu berlanjut.
Lalu terdengar suara kedua.
Suara yang jauh lebih familiar.
Rio menatap Dimas.
Dimas sudah pucat.
Karena mereka berdua mengenali suara tersebut.
Investigasi baru saja berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar