Perjalanan Detektif Rio ke salah satu peristiwa paling sunyi namun paling berat dalam sejarah Islam:
Perang Tabuk (9 Hijriah) — perang tanpa pertempuran, tetapi penuh ujian iman 🌙Kompas waktu itu tidak berkilau terang.
Ia justru terasa berat, seakan memikul beban kejujuran manusia.
Jarumnya berhenti pada satu nama:
TABUK – 9 HIJRIAH
Lorong waktu terbuka perlahan.
Detektif Rio melangkah keluar… dan disambut panas yang kejam.
Perjalanan yang Melelahkan
Rio berada di tengah padang pasir yang panjang tak berujung.
Ini bukan perjalanan singkat. Ini ekspedisi terjauh yang pernah dilakukan Rasulullah ï·º bersama kaum Muslimin.
-
Panas ekstrem
-
Musim paceklik
-
Bekal sangat terbatas
-
Musuh besar: Romawi Timur
Namun Rasulullah ï·º tidak menyembunyikan tujuan.
Beliau jujur menyampaikan ancaman dan arah perjalanan.
Rio mencatat dalam hatinya:
Kejujuran pemimpin justru mengungkap siapa yang benar-benar beriman.
Yang Datang, dan yang Tertinggal
Rio menyaksikan kaum Muslimin berangkat dengan susah payah.
Ada yang berbagi satu unta untuk beberapa orang.
Ada yang menangis karena tak punya apa pun untuk ikut berangkat.
Namun… ada pula yang tertinggal tanpa alasan.
Rio melihat wajah-wajah ragu, penuh dalih.
Inilah perang yang tidak membunuh tubuh,
tetapi membuka isi hati.
Pertemuan dengan Sahabat yang Jujur
Di salah satu perhentian, Rio bertemu seorang sahabat dengan wajah letih dan mata penuh penyesalan.
Ia adalah Ka’ab bin Malik r.a.
“Aku tidak sakit. Aku mampu,” ucapnya lirih.
“Namun aku menunda… hingga terlambat.”
Rio terdiam.
Ia menyadari: kejujuran Ka’ab inilah yang kelak menyelamatkannya.
Tabuk: Tanpa Pedang Terhunus
Sesampainya di Tabuk, kaum Muslimin tidak mendapati pasukan Romawi.
Musuh gentar dan mundur sebelum bertempur.
Tak ada dentang pedang.
Tak ada teriakan kemenangan.
Namun Rasulullah ï·º tetap berdiri tegar, membangun perjanjian damai dan menunjukkan wibawa Islam.
Rio menyadari:
Kemenangan kadang hadir tanpa darah,
namun tetap menuntut pengorbanan terbesar.
Ujian Setelah Kembali
Lorong waktu membawa Rio kembali ke Madinah.
Namun ujian belum selesai.
Ka’ab bin Malik r.a. dan dua sahabat lain jujur mengakui kesalahan mereka.
Mereka diuji dengan pengasingan sosial—berat, namun mendidik.
Rio menyaksikan turunnya ampunan Allah setelah 50 hari.
Ka’ab tersenyum penuh syukur.
“Demi Allah, kejujuran adalah keselamatanku.”
Rio mencatat kalimat itu sebagai bukti paling sunyi dalam sejarah.
Pelajaran Perang Tabuk
Detektif Rio menuliskan kesimpulan perjalanan ini:
-
Tabuk adalah perang kejujuran
-
Yang diuji bukan keberanian, tapi ketulusan niat
-
Iman sejati terlihat saat tidak ada yang memaksa
Kembali ke Masa Kini
Lorong waktu terbuka sekali lagi.
Rio menatap padang Tabuk yang sunyi—tanpa monumen, tanpa sorak.
Di ruang arsipnya, ia menulis baris penutup:
“Di Tabuk, aku belajar bahwa iman sejati tidak selalu berdarah,
namun selalu menuntut kejujuran.”
Kompas waktu berhenti.
Namun sunyi Tabuk…
terus bergema di hati Detektif Rio.