Beberapa waktu kemudian, Rio mendapati dirinya berada di dekat Masjidil Haram pada suatu malam yang sangat hening. Arloji Rio tiba-tiba mengeluarkan peringatan: "Distorsi Ruang-Waktu Terdeteksi: Level Maksimum."
Rio melihat sesosok makhluk yang terbuat dari cahaya—Buraq. Makhluk itu bergerak begitu cepat hingga tampak seperti garis cahaya yang tertinggal di retina mata.
"Kecepatannya melampaui 299.792 km/detik," gumam Rio saat melihat Nabi Muhammad SAW naik ke punggungnya. "Ini bukan lagi perjalanan fisik, ini adalah pemindahan dimensi."
Rio mencoba mengikuti menggunakan fungsi Chronos-Jump pada arlojinya, namun alat itu meledak kecil karena tidak kuat menahan frekuensi energi yang terlalu tinggi. Rio hanya sempat melihat sekilas:
Baitul Maqdis: Nabi memimpin shalat para nabi terdahulu—sebuah pertemuan lintas waktu yang membuat Rio sadar bahwa semua nabi yang ia temui sebelumnya adalah satu kesatuan tim besar di bawah perintah yang sama.
Sidratul Muntaha: Rio terlempar ke pinggiran dimensi ketujuh. Ia melihat pohon cahaya yang warnanya tidak ada dalam spektrum warna manusia. Di sana, Rio tidak bisa menggunakan alat detektifnya karena "waktu" tidak lagi mengalir maju.
Dialog di Ambang Batas
Saat Nabi Muhammad SAW kembali dari perjalanannya, beliau melewati tempat Rio yang masih terpaku memandangi arlojinya yang rusak. Nabi berhenti sejenak.
"Detektif Rio," suara beliau begitu tenang, hingga detak jantung Rio yang tadinya cepat menjadi stabil seketika.
"Ya... Ya Rasulullah," jawab Rio terbata. "Alat saya rusak. Saya tidak bisa menjelaskan bagaimana Anda bisa pergi ke langit tertinggi dan kembali dalam waktu sesingkat satu malam sementara debu di tempat tidur Anda bahkan belum dingin."
Nabi tersenyum, "Ilmumu hanya melihat pintunya, Rio. Imanlah yang membawamu masuk ke dalam ruangannya. Kau telah melihat air terbelah, api yang dingin, dan bulan yang terpisah. Apakah hatimu masih butuh mesin untuk percaya?"
Rio perlahan melepaskan arloji canggih dari pergelangan tangannya. Ia menjatuhkannya ke pasir. "Tidak. Investigasi selesai. Saya telah menemukan bukti bahwa alam semesta ini memiliki Penulis, dan Anda adalah utusan-Nya yang membawa pesan penutup."
Rio ditarik kembali ke masa depan oleh energi sisa dari arlojinya yang hancur. Ia terbangun di kamarnya yang penuh dengan buku-buku sains. Ia berjalan menuju papan tulis besar yang tadinya penuh dengan rumus fisika rumit.
Rio mengambil spidol merah, lalu menulis satu kalimat besar di tengah-tengah semua rumus itu:
"Allah: The Ultimate Architect. Science is just reading His blueprints." (Allah: Arsitek Tertinggi. Sains hanyalah cara membaca cetak biru-Nya.)
Selesailah petualangan Detektif Rio.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar