Malam itu tidak gelap.
Langit Makkah justru terasa bersujud. Bintang-bintang meredup bukan karena hilang, melainkan karena ada cahaya yang lebih agung turun ke bumi.
Detektif Rio hadir tanpa tubuh, tanpa suara. Ia hanyalah kesadaran yang diizinkan Allah menjadi saksi.
Di rumah Aminah binti Wahab, tidak terdengar rintihan. Tidak ada ketakutan. Yang ada hanyalah ketenangan ilahiah—seakan rahmat Allah memenuhi setiap sudut ruangan.
Ketika bayi itu lahir, Rio merasakan sesuatu yang belum pernah ia temui dalam perjalanan lintas zaman:
kedamaian yang menundukkan jiwa.
Tidak ada tangisan yang mengguncang malam. Yang terdengar justru getaran doa alam semesta—gunung, angin, dan langit bertasbih tanpa suara.
Cahaya lembut keluar dari tubuh bayi itu, menerobos dinding rumah, menembus padang pasir, bahkan mencapai negeri-negeri jauh. Bukan cahaya yang membakar, melainkan cahaya yang menyembuhkan.
Aminah tersenyum dan berbisik:
“Anakku… engkau adalah amanah.”
Rio menunduk. Air mata jatuh—bukan karena sedih, tetapi karena ia menyadari satu kebenaran:
Inilah manusia yang doanya akan mengubah dunia.
Ketika gerbang waktu tertutup, Rio membawa satu keyakinan:
Tak semua keajaiban perlu diselidiki.Sebagian hanya perlu diimani.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar