Search

Senin, 12 Januari 2026

Minum Cognac di Bandara: Insiden Unik di Bandara Beijing Tahun 2015

 



Pada Agustus 2015, sebuah kejadian tidak biasa terjadi di Bandara Internasional Beijing Capital. Insiden ini menjadi contoh unik tentang dampak tak terduga dari aturan keamanan bandara, khususnya terkait pembatasan cairan dalam bagasi kabin.

Seorang penumpang perempuan berusia sekitar 40-an tahun, yang diidentifikasi bermarga Zhao (atau Zhou dalam beberapa laporan), sedang transit di Beijing. Ia baru tiba dari Amerika Serikat dan akan melanjutkan penerbangan domestik menuju Wenzhou.

Saat melewati pemeriksaan keamanan, petugas bandara memberitahunya bahwa ia tidak diizinkan membawa botol Rémy Martin XO Excellence berukuran 700 ml ke dalam kabin pesawat. Botol tersebut jauh melebihi batas maksimal cairan yang diperbolehkan, yaitu 100 ml.

Cognac tersebut bernilai sekitar 200 dolar AS, dan penumpang itu enggan meninggalkannya atau membiarkannya terbuang sia-sia. Dalam keputusan yang cukup nekat, ia pergi ke sudut area bandara dan meminum seluruh isi botol tersebut sendirian.

Dengan kadar alkohol sekitar 40 persen, efeknya pun cepat terasa. Tak lama kemudian, ia ditemukan di area gerbang keberangkatan dalam kondisi tidak stabil—berteriak, bertingkah aneh, hingga akhirnya terjatuh ke lantai.

Melihat kondisinya yang sangat mabuk, kapten pesawat memutuskan bahwa penumpang tersebut tidak layak untuk terbang, demi keselamatan dirinya sendiri maupun penumpang lain. Polisi bandara kemudian membawanya menggunakan kursi roda ke area istirahat, di mana ia berada di bawah pengawasan medis selama beberapa jam.

Pada malam hari, setelah sadar sepenuhnya, perempuan tersebut menyampaikan rasa terima kasihnya kepada petugas atas bantuan dan perawatan yang diberikan. Ia kemudian dijemput dan dipulangkan oleh anggota keluarganya.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa aturan keamanan bandara, meskipun terkadang terasa merepotkan, dibuat demi keselamatan bersama—dan bahwa keputusan impulsif bisa berujung pada konsekuensi yang tak terduga.



Tsutomu Yamaguchi: Pria yang Selamat dari Dua Bom Atom



Pada 6 Agustus 1945, Tsutomu Yamaguchi sedang berada di Hiroshima dalam perjalanan dinas pekerjaannya. Pagi itu berubah menjadi mimpi buruk ketika bom atom dijatuhkan dan meledak hanya sekitar 3 kilometer dari tempat ia berada.

Ledakan tersebut menyebabkan Yamaguchi mengalami luka bakar parah, kebutaan sementara, serta gendang telinga yang pecah. Banyak orang tidak selamat pada hari itu, tetapi Yamaguchi berhasil bertahan hidup—meski dalam kondisi terluka dan trauma berat.

Dengan tubuh masih diperban dan belum pulih sepenuhnya, ia memutuskan kembali ke rumahnya di Nagasaki. Namun, takdir seolah belum selesai mengujinya.

Tiga hari kemudian, pada 9 Agustus 1945, Yamaguchi sedang menjelaskan kepada atasannya tentang dahsyatnya ledakan di Hiroshima. Tepat pada pukul 11.02, sejarah kembali terulang. Bom atom kedua meledak di Nagasaki.

Sekali lagi, Yamaguchi selamat. Kali ini, nyawanya tertolong karena berada di dalam bangunan beton yang melindunginya dari dampak langsung ledakan. Lebih dari itu, istri dan bayi laki-lakinya juga selamat dari serangan tersebut.

Puluhan tahun kemudian, pemerintah Jepang secara resmi mengakui Tsutomu Yamaguchi sebagai satu-satunya orang yang dikonfirmasi selamat dari dua ledakan bom atom.

Sepanjang hidupnya, ia harus menanggung berbagai penyakit akibat radiasi. Namun, Yamaguchi memilih untuk bersuara. Ia berbicara di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), menyebut senjata nuklir sebagai “kejahatan terhadap kemanusiaan.”

Tsutomu Yamaguchi tidak “mengalahkan” bom atom. Ia hidup dengan dampaknya—selama 93 tahun. Kisahnya menjadi pengingat nyata tentang penderitaan manusia akibat perang dan bahaya senjata nuklir bagi masa depan umat manusia.



Lawn Chair Larry: Pria yang Terbang dengan Kursi Taman dan Balon Helium



Larry Walters, yang kemudian dikenal dengan julukan “Lawn Chair Larry”, sejak kecil bermimpi menjadi seorang pilot. Namun, impian itu harus kandas karena penglihatannya yang buruk membuatnya tidak memenuhi syarat untuk menerbangkan pesawat.

Alih-alih menyerah, Larry justru memilih cara yang tidak biasa untuk “terbang”.

Pada tahun 1982, ia memutuskan untuk mengikatkan puluhan balon helium ke sebuah kursi taman dan mengudara sendiri. Rencananya sederhana: terbang santai di ketinggian sekitar 9 meter (30 kaki), lalu mendarat dengan aman.

Untuk mewujudkan idenya, Larry mengisi 42 balon cuaca dengan helium dan mengikatkannya ke kursinya. Sayangnya, ia tidak melakukan perhitungan apa pun tentang jumlah helium yang dibutuhkan untuk mencapai ketinggian yang diinginkan.

Berbekal sebuah sandwich, enam kaleng bir, dan senapan angin, Larry memotong tali pengikat dan langsung terangkat ke udara. Namun, bukannya naik perlahan, ia justru melesat jauh melampaui rencana—hingga sekitar 4.800 meter, atau lebih dari tiga mil di atas tanah.

Larry berharap angin akan membawanya ke arah timur, tetapi kenyataannya ia justru terdorong ke barat dan masuk ke wilayah lalu lintas udara bandara. Selama terbang, ia diliputi ketakutan. Ia khawatir jika satu balon saja pecah, keseimbangannya terganggu dan ia bisa terjatuh dari kursi.

Akhirnya, Larry sadar bahwa ia harus turun. Dengan hati-hati, ia menembaki beberapa balon menggunakan senapan angin. Namun, di tengah upaya itu, senapannya justru terlepas dan jatuh ke bawah.

Meski begitu, ia berhasil mengurangi cukup banyak balon hingga perlahan-lahan turun. Larry akhirnya mendarat di kabel listrik, menyebabkan pemadaman listrik kecil di sekitar area tersebut. Beruntung, ia sendiri tidak mengalami luka apa pun.

Setelah kejadian itu, Larry didenda sebesar 4.500 dolar AS karena dianggap mengoperasikan pesawat tanpa izin di wilayah lalu lintas udara bandara. Namun, ia membela diri dengan argumen sederhana: kursi taman bukanlah pesawat.

Pengadilan pun setuju, dan denda tersebut akhirnya dibatalkan.

Kisah Lawn Chair Larry menjadi legenda unik dalam sejarah penerbangan—sebuah cerita tentang mimpi, keberanian, dan ide nekat yang hampir berakhir menjadi bencana.